Bentrokan antarwarga di Sorong, Polisi dituding tidak netral - HARIAN DETIK NEWS

Kamis, 20 Februari 2025

Bentrokan antarwarga di Sorong, Polisi dituding tidak netral

 

Foto amunisi peluru dan sisa dos gas air mata yang diduga digunakan aparat keamanan saat membubarkan bentrokan antar warga di kompleks Kokoda dan Melati Raya Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (20/2/2025)

HariandetikNews.com| Sorong, 

Bentrokan antar warga terjadi di kompleks Kokoda dan Melati Raya, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (20/2/2025) dini hari hingga pagi.

Menurut Kepala Suku Besar Imeko, Nikolas Fatary, yang ditemui Jubi di kediamannya di kompleks Kokoda, Kamis (20/2/2025), insiden diduga bermula dari aksi pemalakan yang memicu aksi saling serang hingga berujung bentrokan besar yang libatkan warga.

Aparat kepolisian dari Polsek Sorong Timur dan Polresta Sorong Kota lalu diterjunkan untuk mengendalikan situasi. Namun, upaya penanganan yang dilakukan aparat justru menuai kritik. Sejumlah warga suku Imeko menuding polisi tidak bertindak netral dan justru berpihak pada salah satu kelompok yang terlibat dalam bentrokan.


Pemicu bentrokan

Menurut keterangan warga, insiden ini berawal saat sekelompok pemuda dari Kokoda melintasi kawasan Taman Melati setelah bertugas menjaga parkiran. Mereka kemudian memotong daun pisang untuk dijadikan alas duduk. Namun, tindakan itu disalahartikan oleh sekelompok pemuda lain yang menduga mereka berniat mencuri.

Kesalahpahaman tersebut berujung pada aksi pengejaran dengan sepeda motor dan ancaman pembakaran rumah. Merasa terancam, warga Kokoda merespons dengan aksi perlawanan yang kemudian memicu bentrokan skala besar.

Aparat dituding tidak netral

Kepala Suku Besar Imeko, Nikolas Fatary, menyesalkan cara aparat kepolisian dalam menangani bentrokan. Ia mengklaim tindakan represif kepolisian lebih banyak menyasar warga Kokoda, termasuk penggunaan gas air mata yang berdampak pada anak-anak dan bayi.

“Kami merasa kepolisian tidak netral. Gas air mata ditembakkan ke permukiman kami, menyebabkan anak-anak dan bayi mengalami sesak napas. Ini sangat berbahaya. Kami meminta Kapolda untuk memberikan klarifikasi,” ujar Fatary.

Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Imeko Papua Barat Daya, Esau Gogoba, juga menilai aparat tampak lebih berpihak pada salah satu kelompok yang bertikai.

“Kami melihat polisi justru turun bersama salah satu kelompok dan ikut maju saat kelompok itu menyerang. Kami harap Kapolda mengambil tindakan tegas terhadap anggota yang tidak netral,” ujar Esau.

Dugaan provokasi oknum aparat

Ketua Forum Imekko Bersatu Papua Barat Daya, Fery Onim, mengatakan bahwa dirinya berada di lokasi bentrokan saat kejadian berlangsung. Ia menilai pola penanganan aparat masih mengulang insiden serupa yang terjadi pada tahun 2024 lalu.

“Saya berada di lokasi saat kejadian, dan melihat bahwa kepolisian tidak berdiri di tengah. Seharusnya, jika ingin netral, gas air mata ditembakkan ke kedua belah pihak untuk menghentikan bentrokan. Namun, yang terjadi, aparat justru mengarahkannya hanya ke satu kelompok,” ungkap Onim.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti adanya dugaan keterlibatan oknum kepolisian yang tinggal di dalam kawasan tertentu dan ikut memprovokasi bentrokan.

“Masyarakat menyampaikan ada oknum anggota yang tinggal di lokasi konflik dan ikut memprovokasi. Jika benar demikian, kami mendesak Kapolda untuk memberikan sanksi tegas, bahkan memindahkan oknum tersebut keluar dari Papua,” tambahnya.

Polisi membantah tidak netral

Menanggapi tudingan tersebut, Kapolsek Sorong Timur, AKP La Ode Zamrin, membantah bahwa kepolisian bertindak tidak netral. Ia menjelaskan bahwa kehadiran aparat semata-mata untuk meredakan konflik yang telah meluas.

“Kericuhan bermula dari aksi pemalakan di Kompleks Melati Raya yang memicu aksi saling serang. Polisi turun untuk mengamankan situasi, tetapi justru diserang oleh kelompok massa,” kata La Ode Zamrin kepada media,pada Kamis (20/2/2025), melalui aplikasi perpesanan.

Ia juga mengungkapkan polisi ikut jadi korban dalam bentrokan itu. Empat anggota kepolisian mengalami luka-luka akibat serangan massa, termasuk Kabag Ops Polresta Sorong Kota, Kompol Indra Gunawan.

Sebagai respons terhadap insiden itu, Kapolda Papua Barat Daya berjanji akan mengevaluasi tindakan anggotanya dan memeriksa oknum yang diduga terlibat dalam eskalasi konflik.

Sementara itu, para tokoh masyarakat berharap insiden ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar bentrokan serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang. Mereka menekankan pentingnya pendekatan damai dan komunikasi antarwarga untuk menjaga stabilitas dan keamanan di Kota Sorong.

Selain itu, Fery Onim juga menyoroti faktor penyebab konflik yang lebih luas, seperti peredaran minuman keras dan perjudian togel yang dinilai ikut memicu ketegangan sosial.

“Kami berharap kepolisian, tokoh masyarakat, dan pemuda bisa bekerja sama dalam memberantas kegiatan ilegal seperti miras dan togel, yang sering menjadi akar konflik di masyarakat. Jika hal ini tidak ditangani, bentrokan semacam ini akan terus terjadi,” pungkasnya.

Saat ini, situasi di lokasi bentrokan berangsur kondusif. Namun, ketegangan masih terasa di kalangan warga. Mereka berharap ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk mencegah konflik serupa terjadi di masa depan. (*)

Editor : Pajar Saragih / Redaksi.

Sumber : Dilansir dari Jubi.id

Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done