By : Drs. Wahyudi El Panggabean
HariandetikNews.com | Pekanbaru,
"Orang yang bisa mencintai secara mendalam, akan selalu awet-muda". (Benjamin Franklin Negarawan Amerika).
Setiap orang, menjalani taqdirNya. Garis nasib mewarnai corak perjalanan hidup seseorang.
Sikap "perfeksionis" (selalu ingin memuaskan orang lain) adalah penghalang terbesar meraih kebahagiaan. Begitu kata psikolog.
Relevan dengan teori: bahwa akar kebahagiaan kita, menghunjam jauh di lubuk hati. Itu artinya, kebahagiaan tidak perlu kita kejar ke mana-mana.
Sebab, ia berada di "dalam". Hanya kita temukan jika kita menjadi "diri sendiri". Menjalani hidup bermakna dengan mencintai aktivitas kita. Mencintainya, secara mendalam. Agar Anda awet-muda.
Pemahaman ini_bagi saya_adalah kesadaran spritual yang tiba secara "senyap" kala usia mengiringi prosesi mentari tergelincir di ufuk barat.
Tetapi, bagi jiwa yang bersyukur, tentu saja, tidak ada istilah "tua" untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk meraih kearifan di usia senja.
Simak ungkapan Helen Mirren yang indah tentang anugerah penuaan:
"Salah satu kegembiraan terbesar dari bertambahnya usia adalah belajar untuk menikmati kesendirian".
Kesendirian, kerap muncul, kala pasangan sudah menuju keabadian atau kondisi fisik yang tak lagi mendukung.
Sebab lain adalah tak lagi menganggap pasangan sebagai prioritas hidupnya. Karena ada yang lebih urgen untuk diperjuangkannya.
Pada titik ini, orang-orang kapitalis mematok motto: "Jika Anda tidak lagi jadi prioritas seseorang, yah...: Tinggalkan!"
Ada kalanya, orang berjauhan tetapi hati tetap direkat cinta & kasih sayang. Saling membesarkan hati. Meski jemari tak bergenggam. Namun, hati saling bertaut.
Sebagian yang lain, merajut hari-hari petang dengan kebersamaan. Saling "merangkul" kepedihan. Lantas, menyulamnya dengan curhatan. Mengubahnya jadi rekah senyum indah.
Saya beruntung yang menyaksikan kedamaian hati ayah dan ibu saya sebagai pasangan yang berdampingan harmony selama separo abad.
Di saat-saat terakhir hidupnya ayahku sempat mengunjungiku ke Pekanbaru. Dengan kemampuan berhasa Inggrisnya yang masih tersisa ayah menjawab pertanyaannku tentang resep keutuhan dalam rumah tangga:
"In the end, it is not about being liked by everyone it is about being loved, respected, and understood by the right ones". Artinya dalam Bahasa Indonesia, kira-kira begini:
"Pada akhirnya, ini bukan tentang disukai semua orang ini tentang dicintai, dihormati, dan dipahami oleh orang yang tepat".
Maka, Berbuat baiklah pada dirimu sendiri dan selalu pilih apa yang membuatmu bahagia. Kita tak mungkin memaksa orang untuk mencintai kita.
Lebih buruk lagi, jika kita membenci orang yang tidak menyukai kita. "That when you harbor bitterness, happiness will dock elsewhere.".
"Jika Anda memendam kebencian, kebahagiaan akan berlabuh di tempat lain..."***
